Tampilkan postingan dengan label Article Football. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article Football. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

PSS Sleman Layangkan Surat Ikut Verifikasi

Manajemen PSS Sleman secara resmi melayangkan surat ke PSSI untuk meminta dua hal pokok yakni verifikasi sebagai peserta Indonesia Super League (ISL) dan menjadi pemegang suara (voter) kongres PSSI.

Manajer PSS Sleman Supardjiyono menjelaskan, pihaknya telah melayangkan surat kepada PSSI terkait permohonan tersebut. “Hari ini (kemarin) kami telah mengirimkan surat kepada PSSI, harapan kami secepatnya surat itu mendapatkan respons, karena itu adalah salah satu penentuan nasib kami ke depan,” kata Supardjiyono memberikan konfirmasi, Jumat (15/11/2013).
Dua hal yang menjadi poin penting dalam surat tersebut. Pertama PSS Sleman sebagai juara Divisi Utama LPIS meminta jatah verifikasi. Dengan verifikasi itu peluang PSS Sleman masuk dalam ISL sangat besar. Aspek legalitas klub sebagai syarat verifikasi telah terpenuhi, di antaranya finansial yang sehat, infrastruktur yang layak dan memadai sesuai standar, administrasi dan pembinaan usia dini sudah dimiliki PSS saat ini.
Menurut Pardji, PSS layak untuk mendapatkan jatah verifikasi tersebut. “Kami meminta jatah  masuk verifikasi karena setelah menang dalam Divisi Utama maka kami memiliki hak atas verifikasi tersebut,” imbuhnya.
Pardji menambahkan jatah verifikasi tidak cukup untuk memuluskan langkah PSS masuk ISL. PSS, katanya, juga meminta PSSI untuk memberikan jatah voter dalam kongres.
Menurut dia, kongres menjadi poin terpenting dalam pengambilan keputusan PSSI. Menurut kabar kongres bakal digelar pada Januari 2014 mendatang. Dengan jatah voter yang diperoleh PSS Sleman tersebut diharapkan akan memberi mereka banyak kemudahan untuk ikut menentukan nasib kompetisi sepakbola tanah air musim 2014.

Setelah menutup kompetisi musim ini dengan manis sebagai juara, manajemen PSS Sleman berharap respons PSSI tidak berlarut-larut. PSS akan melakukan penataan strategi teknik untuk kebutuhan musim depan. Di antaranya melakukan nego pemain, pelatih dan lain sebagainya.
(sumber: bolaindo.com)


La Grande Storia "kami" dengan PSS Sleman


Konvoi PSS Sleman
                Minggu, 10 Noveber 2013 hari sejarah baru bagi kami, setelah bertahun-tahun menunggu dan berharap, akhirnya kami mendapatkan apa yang kami mau. JUARA! Gegap gempita, tawa bahagia dan tangis haru menderu di Stadion Maguwoharjo malam itu. Setelah membagi skor 1-1 sampai menit 90 yang memaksa PSS Sleman dan Lampung FC melakoni drama babak perpanjangan dengan skor akhir 2-1 kemenangan untuk sang Elang Jawa.

                Sore itu mendung sedikit menutupi MIS, padahal jam masih menunjukkan pukul 15.00 namun, di area stadion telah ramai oleh beberapa orang berkostum hijau-hijau dan hitam-hitam. Padahal di dalam stadion masih ada perebutan juara ketiga oleh Persenga dan Persitara, dan pertandingan baru akan digelar malam nanti, PRIDE!!! Hal paling menarik dari sore itu, saya bertemu dengan seorang Sleman fans dari daerah Klaten. Tidak kaget juga jika ada beberapa fans dari luar kota, mengingat sejarah panjang yang dimiliki sang elang. Dia datang dengan beberapa orang berbaju hitam yang kerap saya temui di tribun seatan. Dia duduk disebelah saya dan menawari saya rokok dan minuman, kemudian kami terlibat dalam perbincangan ringan. Saya bertanya-tanya tentang kenapa mendukung dia mendukung PSS Sleman. Dia mengaku sering datang mendukung  PSS sejak dari kelas 3 SMP hingga kini lulus kuliah. Dia menceritakan bagainana dulu sampai rela tidak jajan selama seminggu hanya untuk membeli tiket masuk stadion. Ketika saya menanyakn alasannya kenapa dia menjadi sefanatik itu dengan PSS, dia hanya menjawab “kanggoku PSS ki wis mlebu getih je mas“. “Arep koe bcs opo slemania tetep podo tujuane, koe mesti yo mudeng maksutku” saya hanya tertawa dan kami lalu saling menceritakan juga kejadian-kejadian menarik saat mengawal Elang Jawa away ke kandang lawan. Baik cerita suka maupun duka. Hingga tiba-tiba saya tertegun untuk beerapa saat, terasa semua bulu kuduk berdiri, seperti ada butiran es mengalir di dalam nadi-nadi. Baru saya sadari dari cerita kami berdua, saya telah menemukan kesimpulan pertanyaan saya diawal tadi. Bahwasannya rasa cinta dan kebanggan kami pada PSS sebenarnya tanpa alasan, rasa itu timbul beriringan dengan cerita panjang yang kita miliki dengan PSS. Menyatu mengalir bersama seperti telah mengubah darah kami menjadi hijau, dan menuliskan nama PSS sleman di dada kami. 

                Jika anda mengira saya adalah salah satu gerombolan orang berbaju hitam-hitam di tibun selatan, anda benar. Tetapi jangan mengira kami berteriak, bernyanyi dan berdiri disini untuk bcs, bagi kami bcs hanyalah wadah dan kelompok untuk menata, membakar dan menyatukan teriakan serta semangat dukungan kami untuk PSS, tidak lebih tidak kurang. Kemenangan dan kejayaan PSS adalah harga mati tujuan kami, jika bcs berprestasi, itu “hanya” poin plus yang akan selalu memecut semangat kami untuk mendukung dan terus hidup untuk PSS.
IN PSS WE TRUST, IN CURVA SUD WE BURN.

Sabtu, 02 November 2013

PSS Uji Coba, Stadion Maguwoharjo Kosong

Harianjogja.com, SLEMAN-Di luar dugaan, tribun penonton Stadion Maguwoharjo yang selalu penuh ketika PSS Sleman berlaga kandang, sore ini, Jumat (1/11/2013) terlihat kosong. Ketika PSS Plus menjamu Timor Leste U-23 sore ini pukul 15.30 WIB, kedua kelompok suporter pendukung PSS yang biasanya memenuhi tribun tak terlihat hingga peluit kick off dibunyikan.

Ketika dikonfirmasi, sesepuh Brigatta Curva Sud (BCS), salah satu kelompok suporter PSS, Trimurti Wahyu Wibowo mengakui bahwa sejak awal pihaknya sudah menolak laga uji coba itu. Ia mengaku, pihaknya sama sekali tak diajak berkomunikasi oleh manajemen terkait digelarnya laga tersebut.

Oleh karena itu, ia bahkan berani menyebut yang bertanding lawan Timor Leste tersebut bukanlah PSS yang selama ini didukungnya. “Itu bukan PSS, jadi buat apa kami datang ke stadion,” cetus Wahyu.

Selain itu, menurut dia, laga uji coba itu tak seharusnya digelar mengingat, 7 November mendatang PSS sudah akan melakoni laga penting di babak semifinal Divisi Utama Liga Indonesia 2013. “Kalau memang manajemen itu tak ada duit, itu baru masuk akal kalau mereka menggelar laga itu. Lha wong ini, manajemen tidak kekurangan duit, kenapa dipaksakan menggelar laga ini. Sekarang, biar dirasakan, bagaimana rasanya kalau kami tak datang ke stadion,” katanya.

Sebaliknya, Manajer PSS Suparjiono membantah jika laga uji coba itu digelar hanya untuk alasan uang. “Ini juga untuk keperluan teknis tim ini juga,” bantahnya.

Ia menegaskan bahwa sebelum memutuskan untuk menggelar laga uji coba ini, dirinya sudah berkomunikasi dengan pelatih PSS.
Dalam komunikasinya itu, ia mengaku sempat menanyakan kepada pelatih mengenai penting tidaknya laga uji coba itu digelar. “Saya tanya pelatih, ternyata beliau bilang berani main. Ya sudah, saya putuskan digelar,” ucapnya.

Sedangkan terkait dengan kekhawatiran recovery, ia membantah jika laga itu banyak berpengaruh pada kondisi kebugaran pemain. “Kalau recovery itu, saya rasa tiga hari saja sudah cukup. Kami kan punya waktu seminggu sebelum lawan Persitara [semifinal Divisi Utama],” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Panpel Sudibyo sempat mengutarakan harapannya agar laga uji coba lawan Timor Leste ini bisa menyedot banyak penonton. Bahkan dengan optimistis ia berani memasang target pendapatan tiket sebesar Rp375 juta. “Tapi kalau seperti ini, sangat jauh dari target,” ucapnya sebelum pertandingan.

Jumat, 12 Juli 2013

Tinggal Menunggu Pengesahan Topas dan Agung

SLEMAN- PSS Sleman sudah mengikat tiga pemain baru guna memperkuat tim di sisa putaran kedua. Satu pemain, Kristian Adelmund sudah mendapat legalitas dari PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS).
Namun untuk dua pemain lagi, yakni mantan penggawa PSIM Jogja di Divisi Utama LI 2013 Topas Pamungkas dan Agung Suprayogi belum mendapat pengakuan dari operator kompetisi pimpinan CEO Widjajanto tersebut.

Terkait hal ini, Manajer PSS Sleman Supardjiono menegaskan baik Topas maupun Agung sama-sama sudah didaftarkan ke LPIS sejak akhir pekan lalu. Hanya saja hingga kini belum juga ada jawaban.

Pardji tidak tahu alasan LPIS belum juga memproses pengesahan mereka. Namun dia menengarai hal itu berkaitan dengan awal Ramadan.

“Jujur saya sendiri tidak tahu alasannya kenapa belum ada jawaban dari LPIS. Tapi ada kemungkinan orang-orang yang ada di LPIS sedang liburan. Maklum saja sekarang kan baru memasuki awal Ramadan,” tandas adik politikus partai Nasional Demokrat (Nasdem) Subardi ini.

Pardji memperkirakan Senin (15/7) pendaftaran Agung dan Topas bakal diproses. Juga tidak menutup kemungkinan dua pemain penting Laskar Mataram-julukan PSIM- tersebut sudah disahkan LPIS.

Soal Topas yang sempat membela klub amatir Persikap Kabupaten Pekalongan di Divisi I bulan lalu, Pardji menegaskan hal itu bukan masalah. Sebab, sekalipun bermain di Divisi I status Topas tidak pernah turun ke amatir. Pasalnya sesua manual yang dibuat Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) setiap tim Divisi I diperbolehkan mempekerjakan tujuh pemain profesional.

“Kan aturannya kompetisi Divisi I ini memperbolehkan adanya tujuh pemain profesional. Nah, meskipun Topas main untuk Persikap statusnya tetap pemain profesional. Selain itu, untuk turun dari profesional ke amatir kan butuh masa pemutihan yang tidak sebentar,” kata dia.

Di bagian lain, pelatih anyar PSS Lafran Pribadi memastikan dirinya tidak akan menyusun ulang program latihan Ramadan. Kata pembesut Planet Biru tersebut, apa yang telah disusunnya dengan mantan pelatih Yusak Sutanto sudah sangat sempurna untuk tim yang sedang menjalani jeda tengah kompetisi seperti PSS.

Dengan demikian, agenda uji coba setiap pekan tetap dilanjutkan. Namun jika akhirnya tidak mendapat lawan yang sepadan, tim amatir Sleman bisa menjadi pilihan. Terlebih lagi tidak semua klub Sleman berpartisipasi di ajang Ramadan Cup yang mulai bergulir 17 Juli mendatang.
“Tapi hal itu tentunya harus dibicarakan dengan manajemen juga. Kami kan cuma bisa menyusun plan.Keputusan akhir tetap di manajemen,”imbuhnya.

Tapi PSS nampaknya tidak perlu pusing-pusing mencari lawan sepadan. Pasalnya, kompetitor mereka di Divisi Utama LPIS Persires Banjarnegara berencana mengajak Super Elang Jawa (Super Elja) melakukan laga uji coba . Kabarnya jika terlaksana laga tersebut bakal digelar di Maguwoharjo International Stadium (MIS) akhir pekan depan.
(sumber: Radar Jogja)

Kamis, 27 Juni 2013

Ini Adik atau Malah Fans BCS?


Heuheuheu gininih jadinya kalo punya pacar LDR, pagi-pagi Eyang cuman ditemenin tugas ama kopi doang, skip~. Eyang punya pikiran buat bikin posting nih... Mungkin dari judulnya udah kliatan aneh, tapi buat masyarakat Jogjajarta, Sleman dan Bantul khususnya pasti udah tau apa yang bakalan Eyang posting, simak dulu ya lik. Pastinya kalo kemaren udah pada nyimak galeri sepak bola Indonesia hari sabtu, yang memuat tentang PSS Sleman dan kedua suporter fanatiknya SLEMANIA dan BCSxPSS 1976, bakalan berdecak kagum sama loyalitas dan kekreatifan kedua suporter ini. Ternyata si hitam-hitam Curva Sud ini memiliki adik baru sekarang. Cukup kreatif dengan koreonya yang juga bisa dibilang lumayan. Iseng-iseng Eyang coba deh nonton langsung ke Bantul sama cari profil adik-adik kecil ini di internet, ternyata mereka juga keren dan berkelas loh. Tapi sayang, ternyata sodara muda dari selatan Jogja ini banyak copy pastenya loh. Anehnya lagi lik, sepertinya mereka bener bener copy paste tanpa tau makna bahasa dalam ber-Ultras dan ber-suporter, sepertinya loh~.

Logo CNF x 1967

Adik kecil dari bantul ini bikin suporter ala-ala ultras, namanya CNF x 1967 (Curva Nord Famiglia), ya mereka adalah kelompok suporter PERSIBA. Ada beberapa hal yang akan Eyang kritisi dari kelompok yang katanya ultras dari Bantul ini.

 

Pertama, dari segi nama

kalo kalian seorang yang tau bahasa italia, maka kalian mungkin udah jungkir balik 7 turunan liat namanya. Kata “famiglia” ini seharusnya diletakkan di awal dan atau ada terusan kata di belakangnya, contoh: “Famiglia Internisti Indonesia”. Kata “famiglia” itu artinya rumah tangga, jadinya tribun utara rumah tangga? Heuheuheu bukan kok, maksut mereka adalah keluarga tribun utara, yaampun imut banget yach. Terus soal penama’an yang kesannya memaksa, “x 1967” itu berkesan kalo CNF yang lahirnya 1967, bukan PERSIBA nya.  Apa mereka gak malu kalo ada anak Curva Nord Milan tau keberadaan mereka dan bertanya "Serius kalian berdiri tahun 1967?” ceritanya lain lagi kalo “x PERSIBA 1967”, mungkin mereka tau cuman bingung ntar dikira ikutan “x PSS” nya BCS.

 

Kedua, dari segi fisik/tampilan

Mereka juga pake baju hitam-hitam mirip BCSxPSS nya Sleman. Ultras itu ga harus hitam lik, mungkin kalau BCS Sleman pake putih-putih mungkin CNF pake putih juga kali ya, heuheuheu. Dari chants Eyang juga menemukan hal yang lucu. Mungkin bener kalo forza Slemannya BCS mirip dengan Curva Sud Milano, namun jika didengar lagi nada dan liriknya berbeda jauh. Chants ini ternyata juga di copy paste tetangga kecilnya dari bantul ini, lucunya chants ini cuma di ganti kata bantul dan nord, Eyang harus ketawa ngeliatnya cius, segitu ngefans nya kalian sama BCSxPSS? Hand banner punya BCS pun, ternyata juga mereka copy paste dan Eyang semakin ga abis pikir kok sampe segitunya. Juga kata “vinci per noi” juga di copy paste, memang dari sekian ribu kata-kata berbau Ultras, Itali dan sepak bola gag melintas di pikiran mereka? Logo mereka ada copy paste logo spiderblitz brand clothing di belakang orang mirip sasori di naruto loh heuheuheu. Mungkin karena tingkat usia anggotanya masih duduk di bangku SMP dan SMA sih.


Hand Banner di Maguwoharjo

 


Hand Banner di Sultan Agung

Ketiga, tentang ke Ultrasan
Mereka menyebut diri mereka sebagai ultras, tapi modern? Setau Eyang sih ultras itu malah 100% anti sama yang namanya moderenisasi. Kalo cuman masalah koreo dan red flare Eyang gag masalah, toh sudah dari dulu banyak suporter di Indonesia yang makek, tapi kalo copy paste semua apa itu yang disebut ultras? Ternyata copy paste BCS Sleman ini banyak sekali ga cuma ada di bantul. Itu berarti Sleman sudah mempunyai banyak fans ya di Indonesia. Mungkin maksut mereka itu ingin mencontoh semangat dan keberhasilan BCSxPSS, sayangnya mereka terburu bertindak tanpa belajar atau memahaminya terlebih dahulu.

CNF x 1967
BCSxPSS 1976
Kalo Eyang boleh  usul si CNF dkk ini kembali ke jalan yang bener aja, Eyang malah lebih salut ama Paserbumi yang masih tetap merah dan punya cara sendiri punya harga diri yang lebih dari sekedar copy paste. Bukan masksud Eyang nih mau ngadu domba suporter, tapi kedewasaan dan pemahaman itu perlu ga sekedar ultras ultrasan macam *thutt…* heuheuheu
Mungkin kalau agan-agan bacanya ada sekilas Eyang terlalu mengunggulkan BCS. Ya, Eyang emang seorang penghuni Curva Sud tetap di Sleman Maguoharjo., tapi Eyang nulisnya keadaan jujur wal afiat loh ini heuheuheu. Ingat Eyang gag menggurui, cuman sekedar mengingatkan sebelum terlambat deh J.


(Sumber: Kompasiana, pengalaman)

Kamis, 20 Juni 2013

Derita Pemain dari Liga Terjeger dan Terbaik di Indonesia

sumber foto : koranindonesia.com


“Kami akan terus di sini sampai hak kami dibayar. Kami akan tinggal di kawasan Senayan. Yang terpenting hak kami dibayar. Karena keluarga menunggu kami. Kami hanya minta hak kami untuk menghidupi keluarga kami,”
Hari-hari belakangan ini kita dibuat terenyuh dengan kisah sebelas pemain PSMS mendatangi Kantor PSSI di Senayan, Jakarta. Mereka mengadukan nasibnya 10 bulan belum mendapatkan gaji dari PSMS Medan,. Seperti yang diberitakan Kondisi mereka pun kian parah berada di Jakarta. Tak punya uang untuk kembali ke Medan, mereka pun tidur di depan Kantor PSSI hingga Rabu (19/6/2013) malam
Akhirnya menurut pemberitaan hari ini mendapat simpati juga dari Menpora Roy Suryo yang merasa mirirs melihat nasib yang dihadapai para pemain PSMS medan itu“Kasihan melihatnya. Saya tidak mau melihat mereka tidur di depan Kantor PSSI. Ini harus dicari solusinya,” kata Menpora usai menyaksikan tim Indonesia melawan Jakarta All Star, Rabu (19/6/2013) malam.
“Sebenarnya ini bukan tanggung jawab PSSI, tapi klub yang bersangkutan. PSMS harus membayar gaji mereka secepatnya. PSSI menyelesaikan kejadian ini,” sambung Roy Suryo.
Tapi kalau kita kaitkan dengan apa yang dulu pernah diutarakan Menpora Roy Suryo yang “maaf” agak bertentangan dengan apa yang disebutkan diatas,
“Pemerintah mengizinkan ISL berjalan karena ada janji untuk menyelesaikan tunggakan gaji. Tapi, sekarang kami belum bisa melakukannya. Kalau itu bisa dijalankan (IPL) saya bisa saja membubarkan liga yang dianggap tidak prosedural,” kata Roy.
Dimana sebelumnya pada waktu itu malah Menpora Roy Suryo mengancam akan membubarkan ISL setelah diketahui masih ada pemain yang ditunggak gajinya. pembubaran ISL bisa saja dilakukan apabila kompetisi Indonesia Premier League (IPL) sudah berjalan pada 10 Februari pada waktu itu.
Dan hebatnya pada saat itu petinggi ISL berkelit dengan mengatakan bahwa PT Liga Indonesia (LI) merasa, keberadaan Indonesia Super League (ISL) dilindungi oleh surat perjanjian tertulis yang dikeluarkan awal Januari silam. Yaitu antara LI dengan Menpora saat masih dipimpin Pejabat Sementara Agung Laksono.
Hal itu diungkapkan Sekretaris LI, Tigor Shalom Boboy yang menjelaskan, surat perjanjian 5 Januari itu dibuat sebagai bentuk keluarnya izin kompetisi ISL. Salah satu poin yang tertulis saat itu adalah ISL tetap bergulir. Dengan syarat segera menyelesaikan tunggakan gaji kepada para pemain. Dan yang menarik seperti diungkapkan Tigor tidak ada poin yang menyebutkan kompetisi ISL bisa bergulir asal melunasi gaji pemain. “Melainkan melalui proses yang durasinya antara enam sampai 24 bulan,” jelas Tigor, Selasa (5/2).
Dan sempat juga diungkapkan pada saat itu, bahwa proses itu sudah dijalankan. LI sudah memberikan dana talangan kepada PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, Persiwa Wamena, PSAP Sigli, dan Deltras Sidoarjo. Masing-masing klub mendapat bantuan sekitar Rp 300 juta. Tigor mengakui, jumlah itu memang belum cukup bagi klub untuk melunasi gaji pemain. Dan itulah yang diajadikan bukti bahwa PT. LI sudah menjalani komitmen menyelesaikan masalah.
Jadi dengan kejadian ini sudah selayaknya juga menjadi tanggung jawab menpora karena sangat jelas sekali persoalan ini sudah diketahui dari awal oleh menpora sehingga keluar izin penyelengaraan kompetisi liga ISL ini. Kalau kita mengacu dengan apa yang pernah diutarakannya dulu di link ini  isl-dilindungi-surat-perjanjian-dengan-menpora-lama
Menarik untuk kita tunggu dalam beberapa hari kedepan apa tangapan PSSI dan Menpora berikutnya dalam menyelesaikan persoalan seperti ini, termasuk janji menpora saat menemui pemain PSMS itu yang berjanji akan memberikan jalan yang terbaik untuk mereka.
Kembali satu harapan dari kita semua semoga persoalan ini cepat diselesaikan sehinga persoalan yang dihadapi para pemain PSMS bisa teratasi,  seperti ungkapan kekecewaan yang disampaikan salah satu pemain itu Susanto yang mengungkapkan kekecewaanya terhadap pengurus PSMS yang seperti lepas tangan terhadap mereka.“Pengurus kayaknya tak mau tahu mas, tak ada niatan baik. Kemarin dia (Ketum PSMS) dateng ke kongres tapi giliran dipanggil PSSI dia tidak dateng.”
(sumber: Hari)

Selasa, 18 Juni 2013

KPK Ikutan Memantau Penanganan Persiba??


                  JOGJA – Upaya Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ mengusut dugaan penyimpangan hibah Persiba Bantul tak luput dari perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Diam-diam, lembaga antirasuah pimpinan Abraham Samad itu selalu memantau penanganan kasus tersebut. Apalagi, kasus itu diduga kuat bakal menyeret sejumlah oknum pejabat daerah setempat. “Kami selalu memantau perkembangannya dan ber koordinasi,” kata Ketua KPK Abraham Samad di sela-sela acara Pelatihan Bersama Peningkatan Kapasitas Penegak Hukum dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi di Hotel Quality Jogja kemarin (17/6).

Abraham menambahkan pantauan yang dilakukan KPK kepada kejaksaan merupakan bagian dari supervisi. Dalam pantauan itu, KPK memberikan masukan dan back up penyidik yang menangani kasus tersebut. “Kalau ada kendala, kami memberikan solusi,” tambah Samad. Tak hanya kepada kejaksaan, supervisi juga dilakukan kepada Polda DIJ. Tujuannya agar penyidik Polri dapat menjalankan tugasnya sehingga kasus cepat tuntas dan dapat segera di limpah kan ke pengadilan. “Penyidik KPK hanya 50 orang sehingga tidak mungkin dapat menangani kasus korupsi dari Sabang hingga Merauke. Karena itu, kami juga lakukan supervisi kepada kepolisi an dan kejaksaan,” tandas Abraham.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk menyamakan persepsi dan pandangan mengenai problem dalam suatu kasus. Sebab, kerap ditemui antar aparat penegak hukum beda pandangan ketika melihat suatu masalah korupsi. “Jika antara penyidik KPK, kejaksaan, dan polisi satu pandangan, tentu akan mempermudah penanganan suatu masalah korupsi,” tandasnya. Wakil Jaksa Agung Darmono mengatakan kejaksaan tetap berkomitmen memberantas korupsi di DIJ. Komitmen itu dibuktikan dengan menangani berbagai masalah korupsi, baik yang melibatkan pejabat, pengusaha hingga warga sipil. “Sepanjang ada alat bukti yang kuat, tentu kami usut,” kata Darmono.

(sumber: Radarjogja 18/06/13)

Sabtu, 15 Juni 2013

Definisi Suporter Pada Umumnya

       
Indonesian Supporter

       Suporter sepakbola masih sering menjadi tema sentral pembahasan dan diskusi khalayak, kehadirannya terkadang menyelinap diantara tema - tema penting dan panas lainnya. Terlebih apabila ada peristiwa penting dalam pertandingan sepakbola, atau ada hal yang khusus terkait dengan ulah para supporter sepakbola pendukung sebuah kesebelasan. 

      Suporter berasal dari akar kata suporter , dari kata kerja (verb) dalam bahasa Inggris to support dengan akhiran (suffict) er.To support mempunyai arti mendukung, sedangkan untuk akhiran er menunjukkan pelaku. Kalau ditarik maknanya maka suporter berarti sebagai orang yang memberikan dukungan atau suport tertentu pada ikhwal tertentu pula. Suporter bersifat aktif, memberi dukungan dengan dilandasi oleh perasaan cinta dan fanatisme tertentu.

         Istilah supporter cukup dekat kekerabatanya dengan kata penonton, namun istilah penonton maknanya akan lebih luas daripada suporter, artinya setiap suporter mestinya seorang penonton, sebaliknya tidak semua penonton itu adalah suporter. Masyarakat umum kadang memakai kedua istilah ini bertukar-tukar, karena agak susah membedakannya untuk menyebut obyek yang sama dengan pilihan dua kata: suporter dan penonton.

            Sepakbola adalah salah satu jenis olahraga yang sangat membutuhkan keberadaan supporter ini, ada multi fungsi keberadaannya. Untuk menyebut suporter sepakbola dibelahan dunia ini seperti tifosi dari Italia, torsedor dari Amerika Latin, hooligans untuk suporter tim Nasional Inggris, dll. Ditingkatan klub-klub liga Indonesia juga dikenal sebutan untuk supporter beberapa klub tersebut, seperto LA Mania (Persela Lamongan), Aremania (Arema Malang), Bonek (Persebaya Surabaya), Jakmania (Persija Jakarta), Slemania (PSS Sleman) dll.

       Kehadiran suporter bagi tim sepakbola tentu sangat diharapkan karena olahraga ini sudah bukan sekedar olahraga dengan tujuan sempit menjaga kesehatan, dll, namun sudah berkembang menjadi sebuah bisnis dan industri. Kehadiran suporter akan membawa semangat tersendiri bagi para pemain, karena segala teknik, ketrampilan, kecepatan, kemahiran, dan seni bermain bola akan bisa dinikmati oleh orang lain. Cinta, sayang, perhatian, dukungan tentu dinantikan oleh sang pemain dari para suporternya.

          Suporter atau penonton ketika mendukung, menonton, dan menikmati sebuah pertandingan sepakbola tentunya berharap mendapatkan hiburan olahraga yang memadai dan segar. Dengan segenap pengorbanan berupa biaya tiket, parkir, transport, konsumsi, dll yang dikeluarkan dari kocek seorang suporter tentu berharap mendapat imbalan berupa suguhan pertandingan yang dapat merefresh fikiran dari kepenatan, stress, dll. Jelaslah bahwa ada hubungan saling membutuhkan antara pemain klub/ tim sepakbola dan para suporternya, yang lebih penting lagi adalah ada jalinan kasih sayang, cinta, kebangaan diantara mereka terhadap nama dari tim kesayangan tersebut.