Tampilkan postingan dengan label SEPAK BOLA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPAK BOLA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2013

"Nama Pelatih PSS SLEMAN" Satu Pekan Lagi



SLEMAN-Manajemen PSS Sleman hingga kini belum memiliki keputusan pelatih mana yang akan mereka kontrak untuk mengasuh tim berseragam hijau itu pada musim mendatang. Saat ini ada dua kandidat kuat yang akan menukangi tim berjuluk Super Elang Jawa itu. Kedua kandidat tersebut adalah Timo Scheunemann dan Sartono Anwar.
Manajer PSS Sleman Supardjiyono ketika dihubungi, Jumat (29/11/2013) mengatakan, pihaknya masih terus menggodok matang kedua nama itu. Pihaknya juga masih menggelar rapat untuk menganalisa berbagai pertimbangan yang telah mereka kantongi.
Namun Pardji mengatakan, saat ini masih terlalu dini untuk menentukan nama pelatih karena pihaknya masih harus membicarakan seluruh aspek secara mendaetail. “Sampai saat ini kami belum putuskan, masih akan kami bicarakan lagi di tingkat manajemen,” ujar dia.
Manajemen Elja menargetkan akan menggelar beberapa kali pertemuan internal sebelum mengeluarkan keputusan pelatih yang akan mereka gunakan. Supardjiyono menuturkan pihaknya berencana dalam sepekan ke depan manajemen PSS sudah memiliki keputusan pelatih yang akan mereka gunakan. “Paling lambat satu pekan ini kami dapatkan keputusannya,” katanya.
Sebelumnya, manajemen PSS memutuskan akan memfokuskan pilihan antara Timo dan Sartono meski mereka belum menutup pendaftaran calon pelatih. Keduanya dipilih karena pertimbangan kualitas yang mereka miliki. Timo dinilai memiliki bekal pengetahuan teknis dan taktis yang mumpuni sedangkan Sartono dipilih karena dianggap memiliki jam terbang tinggi di dunia kepelatihan.
Meski saat ini tengah membahas dua nama calon arsitek PSS, Sartono agaknya memiliki peluang lebih besar ketimbang Timo. Pasalnya beberapa waktu lalu pihak manajemen PSS telah bernegosiasi dengan Sartono untuk membicarakan nilai kontrak bila akang menggandeng Sartono ke tubuh PSS. Terlebih Supardjiyono juga memastikan pihaknya mengutamakan pelatih yang berpengalaman dan murah ketimbang yang masih minim pengalaman sebagai pelatih. “Saya tidak bilang siapa yang lebih berpeluang, yang jelas kami butuh pelatih yang bagus dan tak mahal” katanya.

Dengan prestasi kami berharap BIANCO VERDE

Senin, 18 November 2013

PSS Sleman Layangkan Surat Ikut Verifikasi

Manajemen PSS Sleman secara resmi melayangkan surat ke PSSI untuk meminta dua hal pokok yakni verifikasi sebagai peserta Indonesia Super League (ISL) dan menjadi pemegang suara (voter) kongres PSSI.

Manajer PSS Sleman Supardjiyono menjelaskan, pihaknya telah melayangkan surat kepada PSSI terkait permohonan tersebut. “Hari ini (kemarin) kami telah mengirimkan surat kepada PSSI, harapan kami secepatnya surat itu mendapatkan respons, karena itu adalah salah satu penentuan nasib kami ke depan,” kata Supardjiyono memberikan konfirmasi, Jumat (15/11/2013).
Dua hal yang menjadi poin penting dalam surat tersebut. Pertama PSS Sleman sebagai juara Divisi Utama LPIS meminta jatah verifikasi. Dengan verifikasi itu peluang PSS Sleman masuk dalam ISL sangat besar. Aspek legalitas klub sebagai syarat verifikasi telah terpenuhi, di antaranya finansial yang sehat, infrastruktur yang layak dan memadai sesuai standar, administrasi dan pembinaan usia dini sudah dimiliki PSS saat ini.
Menurut Pardji, PSS layak untuk mendapatkan jatah verifikasi tersebut. “Kami meminta jatah  masuk verifikasi karena setelah menang dalam Divisi Utama maka kami memiliki hak atas verifikasi tersebut,” imbuhnya.
Pardji menambahkan jatah verifikasi tidak cukup untuk memuluskan langkah PSS masuk ISL. PSS, katanya, juga meminta PSSI untuk memberikan jatah voter dalam kongres.
Menurut dia, kongres menjadi poin terpenting dalam pengambilan keputusan PSSI. Menurut kabar kongres bakal digelar pada Januari 2014 mendatang. Dengan jatah voter yang diperoleh PSS Sleman tersebut diharapkan akan memberi mereka banyak kemudahan untuk ikut menentukan nasib kompetisi sepakbola tanah air musim 2014.

Setelah menutup kompetisi musim ini dengan manis sebagai juara, manajemen PSS Sleman berharap respons PSSI tidak berlarut-larut. PSS akan melakukan penataan strategi teknik untuk kebutuhan musim depan. Di antaranya melakukan nego pemain, pelatih dan lain sebagainya.
(sumber: bolaindo.com)


La Grande Storia "kami" dengan PSS Sleman


Konvoi PSS Sleman
                Minggu, 10 Noveber 2013 hari sejarah baru bagi kami, setelah bertahun-tahun menunggu dan berharap, akhirnya kami mendapatkan apa yang kami mau. JUARA! Gegap gempita, tawa bahagia dan tangis haru menderu di Stadion Maguwoharjo malam itu. Setelah membagi skor 1-1 sampai menit 90 yang memaksa PSS Sleman dan Lampung FC melakoni drama babak perpanjangan dengan skor akhir 2-1 kemenangan untuk sang Elang Jawa.

                Sore itu mendung sedikit menutupi MIS, padahal jam masih menunjukkan pukul 15.00 namun, di area stadion telah ramai oleh beberapa orang berkostum hijau-hijau dan hitam-hitam. Padahal di dalam stadion masih ada perebutan juara ketiga oleh Persenga dan Persitara, dan pertandingan baru akan digelar malam nanti, PRIDE!!! Hal paling menarik dari sore itu, saya bertemu dengan seorang Sleman fans dari daerah Klaten. Tidak kaget juga jika ada beberapa fans dari luar kota, mengingat sejarah panjang yang dimiliki sang elang. Dia datang dengan beberapa orang berbaju hitam yang kerap saya temui di tribun seatan. Dia duduk disebelah saya dan menawari saya rokok dan minuman, kemudian kami terlibat dalam perbincangan ringan. Saya bertanya-tanya tentang kenapa mendukung dia mendukung PSS Sleman. Dia mengaku sering datang mendukung  PSS sejak dari kelas 3 SMP hingga kini lulus kuliah. Dia menceritakan bagainana dulu sampai rela tidak jajan selama seminggu hanya untuk membeli tiket masuk stadion. Ketika saya menanyakn alasannya kenapa dia menjadi sefanatik itu dengan PSS, dia hanya menjawab “kanggoku PSS ki wis mlebu getih je mas“. “Arep koe bcs opo slemania tetep podo tujuane, koe mesti yo mudeng maksutku” saya hanya tertawa dan kami lalu saling menceritakan juga kejadian-kejadian menarik saat mengawal Elang Jawa away ke kandang lawan. Baik cerita suka maupun duka. Hingga tiba-tiba saya tertegun untuk beerapa saat, terasa semua bulu kuduk berdiri, seperti ada butiran es mengalir di dalam nadi-nadi. Baru saya sadari dari cerita kami berdua, saya telah menemukan kesimpulan pertanyaan saya diawal tadi. Bahwasannya rasa cinta dan kebanggan kami pada PSS sebenarnya tanpa alasan, rasa itu timbul beriringan dengan cerita panjang yang kita miliki dengan PSS. Menyatu mengalir bersama seperti telah mengubah darah kami menjadi hijau, dan menuliskan nama PSS sleman di dada kami. 

                Jika anda mengira saya adalah salah satu gerombolan orang berbaju hitam-hitam di tibun selatan, anda benar. Tetapi jangan mengira kami berteriak, bernyanyi dan berdiri disini untuk bcs, bagi kami bcs hanyalah wadah dan kelompok untuk menata, membakar dan menyatukan teriakan serta semangat dukungan kami untuk PSS, tidak lebih tidak kurang. Kemenangan dan kejayaan PSS adalah harga mati tujuan kami, jika bcs berprestasi, itu “hanya” poin plus yang akan selalu memecut semangat kami untuk mendukung dan terus hidup untuk PSS.
IN PSS WE TRUST, IN CURVA SUD WE BURN.

Sabtu, 02 November 2013

PSS Uji Coba, Stadion Maguwoharjo Kosong

Harianjogja.com, SLEMAN-Di luar dugaan, tribun penonton Stadion Maguwoharjo yang selalu penuh ketika PSS Sleman berlaga kandang, sore ini, Jumat (1/11/2013) terlihat kosong. Ketika PSS Plus menjamu Timor Leste U-23 sore ini pukul 15.30 WIB, kedua kelompok suporter pendukung PSS yang biasanya memenuhi tribun tak terlihat hingga peluit kick off dibunyikan.

Ketika dikonfirmasi, sesepuh Brigatta Curva Sud (BCS), salah satu kelompok suporter PSS, Trimurti Wahyu Wibowo mengakui bahwa sejak awal pihaknya sudah menolak laga uji coba itu. Ia mengaku, pihaknya sama sekali tak diajak berkomunikasi oleh manajemen terkait digelarnya laga tersebut.

Oleh karena itu, ia bahkan berani menyebut yang bertanding lawan Timor Leste tersebut bukanlah PSS yang selama ini didukungnya. “Itu bukan PSS, jadi buat apa kami datang ke stadion,” cetus Wahyu.

Selain itu, menurut dia, laga uji coba itu tak seharusnya digelar mengingat, 7 November mendatang PSS sudah akan melakoni laga penting di babak semifinal Divisi Utama Liga Indonesia 2013. “Kalau memang manajemen itu tak ada duit, itu baru masuk akal kalau mereka menggelar laga itu. Lha wong ini, manajemen tidak kekurangan duit, kenapa dipaksakan menggelar laga ini. Sekarang, biar dirasakan, bagaimana rasanya kalau kami tak datang ke stadion,” katanya.

Sebaliknya, Manajer PSS Suparjiono membantah jika laga uji coba itu digelar hanya untuk alasan uang. “Ini juga untuk keperluan teknis tim ini juga,” bantahnya.

Ia menegaskan bahwa sebelum memutuskan untuk menggelar laga uji coba ini, dirinya sudah berkomunikasi dengan pelatih PSS.
Dalam komunikasinya itu, ia mengaku sempat menanyakan kepada pelatih mengenai penting tidaknya laga uji coba itu digelar. “Saya tanya pelatih, ternyata beliau bilang berani main. Ya sudah, saya putuskan digelar,” ucapnya.

Sedangkan terkait dengan kekhawatiran recovery, ia membantah jika laga itu banyak berpengaruh pada kondisi kebugaran pemain. “Kalau recovery itu, saya rasa tiga hari saja sudah cukup. Kami kan punya waktu seminggu sebelum lawan Persitara [semifinal Divisi Utama],” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Panpel Sudibyo sempat mengutarakan harapannya agar laga uji coba lawan Timor Leste ini bisa menyedot banyak penonton. Bahkan dengan optimistis ia berani memasang target pendapatan tiket sebesar Rp375 juta. “Tapi kalau seperti ini, sangat jauh dari target,” ucapnya sebelum pertandingan.

Jumat, 12 Juli 2013

Tinggal Menunggu Pengesahan Topas dan Agung

SLEMAN- PSS Sleman sudah mengikat tiga pemain baru guna memperkuat tim di sisa putaran kedua. Satu pemain, Kristian Adelmund sudah mendapat legalitas dari PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS).
Namun untuk dua pemain lagi, yakni mantan penggawa PSIM Jogja di Divisi Utama LI 2013 Topas Pamungkas dan Agung Suprayogi belum mendapat pengakuan dari operator kompetisi pimpinan CEO Widjajanto tersebut.

Terkait hal ini, Manajer PSS Sleman Supardjiono menegaskan baik Topas maupun Agung sama-sama sudah didaftarkan ke LPIS sejak akhir pekan lalu. Hanya saja hingga kini belum juga ada jawaban.

Pardji tidak tahu alasan LPIS belum juga memproses pengesahan mereka. Namun dia menengarai hal itu berkaitan dengan awal Ramadan.

“Jujur saya sendiri tidak tahu alasannya kenapa belum ada jawaban dari LPIS. Tapi ada kemungkinan orang-orang yang ada di LPIS sedang liburan. Maklum saja sekarang kan baru memasuki awal Ramadan,” tandas adik politikus partai Nasional Demokrat (Nasdem) Subardi ini.

Pardji memperkirakan Senin (15/7) pendaftaran Agung dan Topas bakal diproses. Juga tidak menutup kemungkinan dua pemain penting Laskar Mataram-julukan PSIM- tersebut sudah disahkan LPIS.

Soal Topas yang sempat membela klub amatir Persikap Kabupaten Pekalongan di Divisi I bulan lalu, Pardji menegaskan hal itu bukan masalah. Sebab, sekalipun bermain di Divisi I status Topas tidak pernah turun ke amatir. Pasalnya sesua manual yang dibuat Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) setiap tim Divisi I diperbolehkan mempekerjakan tujuh pemain profesional.

“Kan aturannya kompetisi Divisi I ini memperbolehkan adanya tujuh pemain profesional. Nah, meskipun Topas main untuk Persikap statusnya tetap pemain profesional. Selain itu, untuk turun dari profesional ke amatir kan butuh masa pemutihan yang tidak sebentar,” kata dia.

Di bagian lain, pelatih anyar PSS Lafran Pribadi memastikan dirinya tidak akan menyusun ulang program latihan Ramadan. Kata pembesut Planet Biru tersebut, apa yang telah disusunnya dengan mantan pelatih Yusak Sutanto sudah sangat sempurna untuk tim yang sedang menjalani jeda tengah kompetisi seperti PSS.

Dengan demikian, agenda uji coba setiap pekan tetap dilanjutkan. Namun jika akhirnya tidak mendapat lawan yang sepadan, tim amatir Sleman bisa menjadi pilihan. Terlebih lagi tidak semua klub Sleman berpartisipasi di ajang Ramadan Cup yang mulai bergulir 17 Juli mendatang.
“Tapi hal itu tentunya harus dibicarakan dengan manajemen juga. Kami kan cuma bisa menyusun plan.Keputusan akhir tetap di manajemen,”imbuhnya.

Tapi PSS nampaknya tidak perlu pusing-pusing mencari lawan sepadan. Pasalnya, kompetitor mereka di Divisi Utama LPIS Persires Banjarnegara berencana mengajak Super Elang Jawa (Super Elja) melakukan laga uji coba . Kabarnya jika terlaksana laga tersebut bakal digelar di Maguwoharjo International Stadium (MIS) akhir pekan depan.
(sumber: Radar Jogja)

Rabu, 26 Juni 2013

Topas Pamungkas dan Agung Suprayogi Merapat Ke PSS Sleman

Topas Pamungkas saat tengah bermain
di PSIM Jogja (dok:istimewa)

Kabarnya dua pemain andalan PSIM Jogja saat menghadapi kompetisi Liga Utama PT.LI yang baru saja usai yaitu Topas Pamungkas dan Agung Suprayogi dikabarkan akan merapat ke PSS Sleman. Kedua pemain andalan PSIM ini terlihat sudah bergabung dalam latihan di Stadion Maguwoharjo pada Senin (24/6) sore.
Bergabungnya Topas dan Agung ini diharapkan bisa mengisi kekurangan pemain PSS di posisi sayap dan striker. Menurut Pelatih PSS, Yusak Sutanto, kedua pemain tersebut masih akan dilihat lagi kualitasnya.
“Mereka baru bergabung latihan sore ini (kemarin sore –red), jadi saya belum bisa melihat kualitas mereka. Rabu nanti ada game untuk bisa melihat kualitas mereka secara mendalam,” ujar Yusak sebagaimana dikutip dari Kedaulatan Rakyat.
Meskipun akan bergabung dengan PSS untuk menyelesaikan kompetisi musim ini, Topas mengaku prioritas utamanya tetap di PSIM. Sehingga jika bergabung dengan PSS, maka seusai kompetisi Divisi Utama PT. LPIS, Topas akan kembali lagi ke PSIM. Meski demikian Topas mengaku siap memberikan yang terbaik untuk PSS.
(Sumber: Berita Jogja)

Sabtu, 15 Juni 2013

PSS Sleman

PSS Sleman
Perserikatan Sepak bola Sleman (biasa disingkat: PSS) merupakan sebuah tim sepak bola yang berbasis di Kabupaten SlemanDaerah Istimewa YogyakartaIndonesia. Tim yang didirikan pada 20 Mei 1976 ini merupakan salah satu tim sepak bola yang disegani di Indonesia dan memiliki julukan sebagai tim Super Elang Jawa atau Super Elja. Tim ini juga sering disebut dengan julukan Laskar Sembada. Mereka bermain diDivisi Utama dalam sebuah kompetisi sepak bola IndonesiaLiga Indonesia. Prestasi tertingginya dalam kompetisi Liga Indonesia adalah dua tahun berturut-turut menempati empat besar pada Divisi Utama Liga Indonesia 2003 dan Divisi Utama Liga Indonesia 2004. Stadion utama mereka adalahStadion Maguwoharjo, dan menggunakan Stadion Tridadi sebagai stadion kedua.



lahir pada Kamis Kliwon tanggal 20 Mei 1976 semasa periode kepemimpinan Bupati Drs. KRT. Suyoto Projosuyoto. Lima tokoh yang membidani kelahiran PSS adalah H. Suryo Saryono, Sugiarto SY, Subardi, Sudarsono KH, dan Hartadi. PSS didirikan pada awalnya hanya mereka senang dengan sepak bola. Dengan sepak bola mereka yakin akan menambah teman, meningkatkan persaudaraan dan tentu saja dengan sendirinya meningkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat Kabupaten Sleman. Lahirnya PSS dilatarbelakangi bahwa pada waktu itu di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru ada dua perserikatan yaitu PSIM Yogyakarta dan Persiba Bantul. Waktu berdirinya PSS hampir bersamaan dengan saat berdirinya Persikup Kulon Progo dan Persig Gunungkidul. Saat itu, selain di Kota Yogyakarta, potensi sepak bola di empat daerah kabupaten tidak terpantau dan kurang terkelola dengan baik. Padahal beberapa daerah diKabupaten Sleman, seperti Prambanan, Sleman dan Kalasan.
Keinginan masyarakat yang kuat di Kabupaten Sleman untuk memiliki perserikatan klub sepak bola akhirnya mulai terwujud dengan adanya informasi yang disampaikan oleh Komda PSSI DIY pada waktu itu (Prof. Dr. Sardjono) yang menyatakan bahwa syarat untuk membentuk perserikatan sepak bola minimal harus ada lima klub. Di Kabupaten Sleman pada waktu itu sudah ada lima klub yaitu PS Mlati, AMS Seyegan, PSK Kalasan, Godean Putra dan PSKS Sleman. Akhirnya, tepat pada tanggal 20 Mei 1976, PSS dibentuk dengan Ketua Umum Gafar Anwar (seorang polisi).
Setelah Gafar Anwar meninggal, posisi Ketua Umum PSS digantikan Oleh Drs. Suyadi sampai dengan 1983. Periode 1983-1985, PSS dipimpin oleh Drs. R. Subardi Pd (Drs. KRT. Sosro Hadiningrat). Periode 1986-1989, PSS dipimpin oleh Letkol Infanteri Suhartono. Karena ada perubahan masa bakti/periodisasi dalam memimpin klub perserikatan yang dilakukan oleh PSSI menjadi empat tahunan maka di tengah perjalanan periode Letkol Infanteri Suhartono tepatnya tahun 1987, Letkol Infanteri Suhartono masih dipilih lagi sebagai Ketua Umum PSS untuk masa jabatan 1987-1991. Kemudian pada periode 1991-1995, PSS dipimpin oleh H. RM. Tirun Marwito, S.H. Mulai periode 1996-2000, PSS dipimpin langsung oleh bupati, pada waktu itu Drs. H. Arifin Ilyas. Selanjutnya tahun 2000-2004, PSS dipimpin oleh Bupati Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt. Jabatan Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt dalam memimpin PSS yang berarkhir pada tahun 2004 diperpanjang mulai 2005, banyak nama yang membesarkan PSS, di antaranya Sudarsono KH, H. Sukidi Cakrasuwignya, Suparlan, H. Subardi, S.H., Hendricus Mulyono, Drs. H. Arifin Ilyas, Drs. H. Ibnu Subiyanto, Akt dll.
Saat ini PSS memutuskan menggunakan nama Persatuan Sepak bola Sleman dalam profil timnya berkaitan dengan pajak sponsorship. Nama persatuan hanya dipakai dalam media massa dan komunikasi bisnis saja. Sedangkan nama perserikatan tetap dalam sejarah pendirian. Nama perserikatan tidak diperbolehkan dalam segmen bisnis modern dalam penerimaan sponsorship.
Untuk memenuhi aspek legal dalam mengikuti kompetisi profesional, maka mulai musim 2011/2012 dibentuklah PT. Putra Sleman Sembada (PT. PSS). PT. PSS didirikan dengan akta notaris no. 78 tanggal 26 April 2012 untuk menaungi PSS. Struktur organisasi PT. PSS terdiri dari satu Komisaris Utama, tiga Komisaris, satu Direktur Utama/CEO dan empat Direktur yakni Direktur Teknik, Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan, dan Direktur Umum. Komisaris Utama dipegang oleh Bambang Sukmonohadi. Komisaris dipegang oleh Mujiman, H. Giyanto, H. Sudibyo. Jajaran direksi dipegang masing-masing Direktur Utama H. Suparjiono, Direktur Teknik Yoni Arseto, Direktur Pemasaran Soekeno, Direktur Keuangan Djaka Waluya, S.E., Direktur Umum Indriyanto Eko Saputro.
PSS beraksi pertama kalinya dalam sebuah turnamen yang digelar di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Turnamen kecil dengan peserta dari empat kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang digunakan sebagai ajang seleksi tim Pra PON DIY pada tahun 1976 ini merupakan debut resmi PSS. Dari turnamen ini, akan diambil beberapa pemain yang kemudian akan dijadikan pemain tambahan bagi tim PSIM yang menjadi kekuatan tim inti Pra PON DIY saat itu. PSS berhasil mengalahkan Persig Gunungkidul 1-0 pada tanggal 10 Agustus 1976, sebelum akhirnya kalah dariPersiba Bantul 0-2 dalam pertandingan final.
Tiga tahun pertama PSS baru mengadakan kegiatan yang lebih bersifat intern, misalnya mengadakan kompetisi antar klub anggota PSS. Kompetisi ini sebagai media publikasi PSS dan dalam rangka memasyarakatkan olah raga sepak bola di wilayah Kabupaten Sleman. Lambat laun jumlah klub yang menjadi anggota PSS semakin banyak. Tahun demi tahun berikutnya dilalui dengan peningkatan-peningkatan, dengan mengikuti pertandingan di tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tiga tahun setelah PSS dibentuk, PSS memulai perjuangan dalam kompetisi Divisi II PSSI pada tahun 1979 dengan lawan tim-tim sepak bola yaitu Persiba Bantul, Persig Gunungkidul, dan Persikup Kulon Progo untuk tim yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang pada waktu itu memiliki lima perserikatan. Setelah lolos babak penyisihan PSS langsung masuk divisi IIA bersama dengan tim perserikatan-perserikatan sepak bola dari Provinsi Jawa Tengah yang lolos babak penyisihan seperti PSIR Rembang, Persijap Jepara, dan Persibat Batang (menjadi satu rayon) sehingga perserikatan manapun yang lolos di DIY harus bergabung dulu dengan Provinsi Jawa Tengah melakukan kompetisi.
Pelan namun pasti, PSS mencoba menapak kompetisi nasional melalui pemain-pemain yang dibina di kompetisi internal secara kontinyu. PSS, sadar atau tidak, sebenarnya telah membangun sebuah kultur sepak bolanya melalui kompetisi lokal yang rutin, disiplin dan bergairah. Berdiri tahun 1976, PSS termasuk perserikatan yang muda jika dibandingkan dengan PSIM Yogyakarta,Persis Solo, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, Persija dan lainnya.
Namun, meski muda, PSS mampu membangun kompetisi sepak bola secara disiplin, rutin dan ketat sejak pertengahan tahun 1980-an. Kompetisi itu tak bernah terhenti sampai saat ini. Sebuah konsistensi yang luar biasa. Apalagi, kompetisi yang dijalankan melibatkan semua divisi, baik Divisi Utama, Divisi I maupun Divisi II. Bahkan, pernah PSS juga menggelar kompetisi Divisi IIA.
Maka, tak pelak lagi, PSS kemudian memiliki sebuah kultur sepak bola yang baik. Minimal, di Kabupaten Sleman telah terbangun sebuah tradisi sepak bola yang meluas dan mengakar dari segala kelas. Pada gilirannya, tak menutup kemungkinan jika suatu saat PSS mampu menyuguhkan permainan fenomenal dan khas.
Ini prestasi luar biasa bagi sebuah kota kecil yang berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta ini. Di Kabupaten Sleman tak ada sponsor besar, atau perusahaan-perusahaan raksasa yang bisa dimanfaatkan donasinya untuk mengembangkan sepak bola. Kompetisi itu lebih berawal dari kecintaan sepak bola, tekad, hasrat, motivasi dan kemauan yang tinggi. Semangat seluruh unsur yaitu penonton, pemain, pelatih, pengurus dan pembina terlihat begitu tinggi.
PSS pernah dipuji oleh ketua umum PSSI, Kardono sebagai tim perserikatan yang memiliki kompetisi internal terbaik di Indonesia. Tak kurang 60 tim amatir secara rutin bertarung dalam tiga divisi dalam kompetisi PSS. Klub-klub asal Kabupaten Sleman pun merajai berbagai turnamen tarkam, dan PSS tak pernah kekurangan stok pemain.
Sejak tahun 1987, PSS mulai menargetkan agar dapat berlaga ke pentas sepak bola nasional dengan promosi ke Divisi Satu. Namun seringkali usaha PSS kandas saat mengikuti kompetisi penyisihan Divisi IIA zona Jateng DIY. Keberhasilan PSIR Rembang dan Persiku Kudus promosi ke Divisi Satu, dan bahkan ke Divisi Utama Liga Indonesia saat Liga Indonesia mulai bergulir memuluskan langkah PSS untuk merajai Divisi IIA Jateng DIY bersama Persijap Jepara, dan berlaga di pentas Divisi II Nasional.
Namun, usaha PSS untuk promosi ke Divisi Satu Liga Indonesia pada Liga Indonesia 1994/1995 gagal sampai kemudian baru Liga Indonesia tahun 1995/1996, PSS meraih juara kompetisi Divisi Dua Liga Indonesia untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat pertarungan ketat, PSS berhasil mengalahkan Aceh Putra dan meraih tiket promosi dengan pelatih Suwarno.
Selama berada di Divisi II PSS tidak pernah mendapatkan sumber pendanaan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Tidak ada sponsor dari manapun, sumber pendanaan PSS pada waktu itu berasal dari kontribusi pribadi masyarakat Kabupaten Sleman yang gila bola. Rumah Sudarsono KH di Rogoyudan, Jalan Magelang berfungsi sebagai kantor PSS, di mana di tempat ini diadakan rapat dan berkumpulnya para pemain sepak bola menjelang dan sesudah pertandingan. Kemudian PSS mengikuti kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia selama empat tahun mulai musim kompetisi 1996/1997 sampai musim kompetisi 1999/2000.

Perjalanan PSS yang membanggakan itu bukan hal yang mudah. Meski lambat, perjalanan itu terlihat mantap dan meyakinkan. Sebelumnya, pada kompetisi tahun 1990-an, PSS masih berada di Divisi II. Tapi, secara perlahan PSS bergerak dengan mantap. Pada kompetisi tahun 1995/1996, tim ini berhasil masuk Divisi Satu Liga Indonesia, setelah melewati perjuangan berat di kompetisi-kompetisi sebelumnya. Dengan kata lain, PSS mengorbit di Divisi Utama Liga Indonesia bukan karena karbitan. Ia melewatinya dengan proses panjang.

Meski belum optimal, PSS akhirnya menuai hasil dari tradisi sepak bola mereka. Setidaknya, PSS sudah melahirkan pemain nasional Seto Nurdiantoro. Sebuah prestasi langka bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terakhir, pemain nasional dari Daerah Istimewa Yogyakarta adalah kiper Siswadi Gancis. Itupun ia menjadi cadangan Hermansyah. Dengan memiliki tradisi sepak bola yang mantap dan mapan, tak menutup kemungkinan jika PSS akan memiliki kualitas sepak bola yang tinggi. Sejak kiprahnya di Divisi Utama Liga Indonesia, PSS telah mengantarkan Seto Nurdiantoro, Anton Hermawan, Mauly Lessy, Anang Hadi, dan Fachrudin Aryanto untuk mengenakan kostum Tim nasional sepak bola Indonesia.

sumber: id.wikipedia.org/

Jadwal PSS Sleman 2013


foto:dok @PSS_official1

Berikut jadwal main PSS Sleman dalam mengarungi kompetisi Divisi utama LPIS 2013

Jadwal PSS Sleman 2013 PUTARAN I

1. Minggu,14 April    PSS vs Persebangga
2. Rabu,24 April       PSS vs Persewon
3. Minggu,28 April    PSS vs PPSM
4. Rabu, 1 Mei          Persemalra vs PSS
5. Minggu, 5 Mei       Persifa vs PSS
6. Minggu,12 Mei      PSS vs Persinga Nganjuk
7. Minggu,19 Mei      PSBI vs PSS
8. Rabu,22 Mei         Persekap Pasuruan  vs PSS
9. Rabu,5 Juni          PSS vs Persires
9. Minggu,9 Juni       PSS vs Persis


Jadwal PSS Sleman 2013 PUTARAN II


1. Minggu,16 Juni   Persibangga vs PSS
2Rabu,26 Juni      Persewon vs PSS
3. Selasa,2 Juli       PSS vs Persemalra
4. Sabtu,6 Juli         PSS vs Persifa
5. Minggu,18 Ags   Perenga vs PSS
6. Minggu,25 Ags   PSBI vs PSS
7. Kamis,29 Ags    PSS vs Persekap 
8. Rabu,11 Sept     Persires vs PSS

9. Minggu,15 Sept  Persis vs PSS